Direct Call Bitung–China Pangkas Waktu Pengiriman dan Biaya Logistik Ekspor
Di publish pada 08-06-2026 09:31:59
BITUNG, 26 Mei 2026 – Program ekspor langsung (Direct Call) dari Pelabuhan Bitung ke China mulai menunjukkan dampak positif bagi pelaku usaha di Sulawesi Utara.
Selain memangkas waktu pengiriman secara signifikan, layanan pelayaran langsung ini juga mampu menurunkan biaya logistik sehingga meningkatkan daya saing produk ekspor dari kawasan Indonesia Timur di pasar global.
Manfaat tersebut disampaikan dalam kegiatan asistensi ekspor yang dilakukan Kepala Bidang Fasilitas Kanwil Bea Cukai Sulawesi Bagian Utara, Adeltus Lolok, kepada PT Benteng Laut Sejahtera (BLS), salah satu eksportir produk olahan tuna di Kota Bitung, Selasa (26/5).
Direktur Utama PT BLS, Alexandre Sarumaha, menjelaskan bahwa sebelum adanya layanan Direct Call, pengiriman produk ekspor dari Bitung harus melalui jalur yang cukup panjang. Komoditas ekspor terlebih dahulu dikirim ke Jakarta atau Surabaya, kemudian transit ke Singapura sebelum diteruskan ke negara tujuan seperti Vietnam dan Thailand.
“Rute tersebut membuat waktu pengiriman bisa mencapai 40 hari. Kondisi ini tentu memengaruhi kualitas produk karena komoditas kami adalah produk perikanan beku. Selain itu, arus kas perusahaan juga menjadi kurang efisien karena pembayaran dari pembeli diterima lebih lama,” ujar Alexandre.
Menurutnya, kehadiran layanan Direct Call membawa perubahan signifikan. Produk tuna yang diekspor kini dapat tiba di negara tujuan hanya dalam waktu sekitar 10 hari. Selain menjaga kualitas produk tetap optimal, percepatan distribusi juga mempercepat penerimaan pembayaran dari pembeli.
“Dengan Direct Call, kualitas produk tetap terjaga dan pembayaran dapat diterima lebih cepat. Dari sisi biaya, kami bisa menghemat sekitar 1.000 dolar AS per kontainer,” tambahnya.
Hingga Mei 2026, layanan Direct Call dari China ke Bitung telah diuji coba sebanyak tiga kali dengan total muatan sekitar 221 kontainer atau 445 TEUs. Berbagai komoditas ekspor telah memanfaatkan layanan tersebut, mulai dari produk perikanan, turunan kelapa, arang kelapa, pala, hingga produk olahan kertas (bobbin paper).
Dalam kesempatan yang sama, pegiat Sulut Go Ekspor, Alan Harvey, menyoroti tantangan yang masih dihadapi pelaku usaha, yakni terbatasnya ketersediaan kontainer internasional di Pelabuhan Bitung. Padahal, potensi ekspor dari Sulawesi Utara dan wilayah Indonesia Timur terus menunjukkan tren peningkatan.
Menanggapi hal tersebut, Adeltus Lolok menyampaikan bahwa Bea Cukai bersama berbagai instansi terkait terus berkoordinasi untuk mencari solusi atas kebutuhan kontainer ekspor serta memastikan keberlanjutan layanan Direct Call.
“Semua pihak saat ini berupaya agar Bitung dapat berkembang menjadi hub logistik untuk mendukung kemajuan Sulawesi Utara dan Indonesia Timur. Masih ada beberapa regulasi yang dapat ditinjau ulang agar semakin banyak eksportir memperoleh manfaat nyata dari layanan Direct Call ini,” ujarnya.
Selain itu, Pelabuhan Bitung juga terus melakukan berbagai pembenahan layanan guna meningkatkan efisiensi pelayanan kapal internasional yang bersandar. Kehadiran jalur pelayaran langsung dari Bitung menuju kawasan Asia Timur diyakini dapat menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia.
Dengan semakin efisiennya sistem logistik dan distribusi, pemerintah berharap arus ekspor dari Indonesia Timur tidak lagi bergantung pada pelabuhan-pelabuhan besar di Pulau Jawa. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan distribusi ekonomi yang lebih merata sekaligus memperkuat posisi Indonesia Timur sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis perdagangan internasional.
Isikan nama, email dan komentar Anda
Berita Terakhir
Berita Terkait
Highlight Kantor Kami
Apa yang kami miliki
Berikut ini daftar Sistem Aplikasi yang kami sediakan untuk layanan yang dapat diakses